Friday, October 21, 2005

CANTIKNYA BANGSATKU

Aku panik berusaha menghubungimu. Kamu di mana? Gila! Sudah berapa lama aku hubungi tak ada jawaban. Sinting! Berdiri dekat pagar tempat tinggalmu. Kamu di mana? Tak ada batang hidungmu. Ku dengar dering telepon dari kamarmu. Ternyata kamu di sana. Ada di dalam kamar. Kenapa tak jawab teleponku? Heran.

Berjalan mendekat kamarmu. Suara rintik hujan menemani langkahku. Bergegas. Panik. Sampai juga di kamarmu.

“Pria itu siapa? Aku tak kenal. Jawab!”

Kau diam saja.

“Sini, kamu bangsat! Siapa dia?”

Ku tarik tangannya erat-erat.

“Jangan menunduk! Aku sedang bertanya padamu!”

Kau tetap tertunduk memasang muka meminta ampun.

“ Ku bunuh kau!” Ku mengangkat tangan siap menamparmu.

Sampai akhirnya aku berpikir, “Ahh, tak mampu, tak perlu. Aku hanya emosi. Percuma buang tenaga untuk pelacur sepertimu.”

Kejadian yang terjadi belasan tahun lalu. Tak hilang dari ingatan. Aku adalah orang yang berbeda saat itu dibanding diriku sekarang. Begitu emosi, tak pernah pikir panjang, nafsu adalah sahabatku.

Aku pun saat itu tak jauh lebih baik dari si bangsat itu. Aku pun sering membawa perempuan main ke kamar kos. Entah apa saja yang sudah aku lakukan di kamar itu bersama para perempuan.

Ada sekitar 20 perempuan yang pernah mampir di kamarku. Tak satupun yang aku ingat namanya. Luar biasa. Padahal, aku begitu dikenal oleh mereka. Tak jarang mereka mengirimkan SMS atau malah telepon sekadar berbasa-basi. Menanyakan kabarku. Sayangnya aku lupa siapa saja mereka. Bukannya sombong, tapi lebih karena aku menganggap mereka itu adalah makhluk yang ‘nggak penting’. Aku tahu kalau mereka akan kembali kapan pun aku membutuhkan. Tinggal ‘halo’ mereka pasti datang. Kalau pun tak bisa datang, aku bisa mendapatkan jenis makhluk ‘nggak penting’ itu di mana saja.

No comments: