Tuesday, October 25, 2005

Anak Kota II

Beni tak kuasa menahan air liurnya yang menetes karena melihat pom bensin. "Ini yang aku cari sejak tadi dalam kemacetan, dalam kesendirian. Tak ada yang lebih melegakan dibanding menikmati tetesan bensin untuk mobil kesayanganku ini."

Ia rapatkan mobilnya. Segeralah penjaga pom bensin menanyakan berapa liter bensin yang ingin ia telan. “50 ribu saja,”jawab Beni. Cukup untuk perjalanan tiga hari bersama mobil kesayangannya, jika tidak dipakai terlalu jauh. Hanya dengan rute rumah, kantor, panti pijat dan rumah kos pacarnya.

Setelah membayar penjaga bensin, Beni pun melanjutkan perjalannya. Tanpa tujuan. “Yang penting, aku sudah mengisi mobilku dengan makanan kesukaannya. Sekarang giliran aku mencari makanan kesukaanku. Di mana? Yang mana? Siapa? Aku masih bingung apa yang ingin ku makan,” pikir Beni dalam hati. “Mungkin akan aku nyalakan saja radio. Aku ingin tahu komentar-komentar para penyiar tentang cuaca sore ini.” Sore yang penuh dengan burung merpati berterbangan ke sana ke mari di angkasa. Langit hitam bercampur senja jingga. Tampak indah dihiasi dengan burung merpati. Ribuan, berwarna putih.

Beni tak henti hentinya bersiul mengikuti decit suara rem mobil mobil dalam kemacetan. “Cat cit cat cit.” Ia tirukan dengan suaranya, kadang dengan siulannya.

Kemacetan tak beranjak sejak keluar dari pom bensin. Sembari menikmati kemacetan dan lagu -lagu usang dari pengeras suara usang, ia pun menikmati hiasan di langit. Merpati, indah tanpa tujuan tapi tetap terlihat indah. “Aku pun tak punya tujuan tapi apakah orang akan melihat ku seindah itu?” lantur Beni. Mungkin. “Mungkin juga tidak tapi aku ingin sekali dilihat orang dengan sisi yang indah, yang menarik hati. Aku memang hanya orang biasa tapi aku ingin jadi luar biasa.”

Pikiran yang Beni pikirkan sebelum sebuah motor dengan kencangnya menabrak sisi mobil sebelah kanan, tepat di sisi Beni mengendarai mobil. Merah, hitam, biru yang Beni lihat terakhir di bumi

No comments: