Hujan rintik-rintik tak kunjung henti. Awan gelap pun terus menyelimuti kota ini sepanjang hari. Sekarang sudah lepas maghrib. Memang tak banyak perubahan sejak pagi tadi. Dari pagi mobil-mobil di jalan sudah menyalakan lampu kecilnya ketika berjalan di jalanan kota.
Beni berkendara sendirian. Hanya ditemani celotehan suara penyiar radio. Garing. Namanya juga penyiar radio, kalau tidak garing bukan penyiar radio. Itu kata teman Beni yang penyiar radio Sip FM. Ungkapan yang mungkin ada benarnya, tapi bisa juga tidak benar. Pintar bicara belum tentu garing, bukan? Pikir Beni sambil memandang silau sinar lampu mobil dari arah yang berlawanan.
Tak ada tujuan yang pasti Beni terus mengendarai mobilnya. Menelusuri jalan, menyalip, disalip mobil lain, di tengah kemacetan kota Digjaya yang sudah terkenal ini. Jangan heran kalau ada pengendara mobil yang harus menempuh waktu 2 jam untuk mencapai tempatnya beraktifitas dari tempat tinggalnya. Itu hal yang biasa. Sangat biasa malah.
Sudahlah, itu bukanlah hal yang harus dikeluhkan. Terima saja. Beni, seperti kebanyakan, warga di kota Digjaya sudah capai untuk tinggal di kota ini, tapi juga tak bisa begitu saja meninggalkan kota tempat kelahirannya yang memberikan segala kemewahan, kekayaan, mata pencaharian, gengsi dan juga nama.besar ini. Aneh memang, padahal ia sudah begitu sukses jika diukur dengan uang tapi masih ingin pergi meninggalkan kota ini. Ke tempat yang jauh. Yang tak ada kesusahan, tak ada kemacetan, tak ada kemiskinan, tak ada kriminalitas, tak perlu perjuangan untuk hidup dari ke hari. Ke mana? Itu masalahnya. Tak ada tujuan yang pasti. Mungkin dengan mengendarai mobil tanpa tujuan ini bisa membawa Beni ke suatu tempat. Yang jauh dari segala kesumpekan ini. Tempat yang lebih tenang. Tak ada kecewa. Tak ada huru hara. Tak ada kenaikan harga yang membuat orang mengantri ratusan meter demi seliter minyak. Ah, di manakah semua itu? Mungkinkah aku sampai di tempat itu?
Pikiran Beni terus melayang membayangkan nikmatnya tempat baru yang belum ia temukan. Ia sadar kemungkinan besar tak akan sampai ke tempat baru itu. Berharap sekaligus mengkhayal tak ada salahnya, pikir Beni. Manusia diberi oleh Yang Di Atas otak untuk berpikir dan berkhayal jauh, kenapa tidak digunakan semaksimalnya?
Tak terasa sudah tiga jam Beni mengendarai mobil sedannya itu. Mobil yang telah dimilikinya sejak lima tahun lalu. Dibeli karena Beni merasa memerlukan kendaraan untuk transportasi dirinya. Ke manapun ia ingin pergi. Apa hanya itu alasannya memiliki mobil? Ternyata tidak. Di alam bawah sadarnya ia ingin diakui. Ia ingin orang melihatnya sebagai seorang yang sukses dalam karirnya. Kesuksesan ini diukur dengan seberapa banyak uang yang berhasi ia hasilkan. Sukses karir sama dengan banyak uang yang dimiliki. Anggapan itu yang Beni selalu pegang.
Hingga ia akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah mobil sedan yang saat lima tahun lalu itu adalah sedan keluaran terbaru, penuh gengsi seandainya kita mengendarainya, apalagi memilikinya. Gengsi. Itu penggambaran suasana alam bawah sadar Beni saat terdorong untuk membeli mobil baru. Saya sukses, saya banyak uang, saya perlu pengakuan bahwa saya sukses, saya akan membeli mobil baru untuk menunjukkan kesuksesan. Semua demi gengsi. Ia lupa bahwa rumah orang tuanya hanya cukup untuk satu mobil saja. Sehingga, harus ada mobil yang mengalah untuk diparkir di pinggir jalan rumahnya yang terletak di sebuah gang kecil. Mobil barunya yang keren menterengkah atau mobil VW Kodok kesayangan ayahnya yang sudah dipakai sejak ayah dan ibunya masih pacaran?
(Bersambung)